Jumat, 16 November 2012

cinta dan air mata


Malam ini hujan mengguyur bumi, dinginnya angin malampun silih berganti menusuk-nusuk tubuhku. Dalam sepinya malam ini aku sendiri tanpa satu orangpun menemani ku.. Sungguh membosankan uch……. Ingin rasanya aku cepat mengakhiri malam ini . aku pun menarik selimutku dan mulai memejamkan mataku.waktupun berlalu mentari pagi mulai muncul dan tersenyum di upuk timur, suara kokok ayam ayampun mulai terdengar nyaring di telingaku seakan-akan mengajakku tuk segera sadar dari mimpiku. Aku pun mulai mengambil handuk dan segera bersiap-siap untuk mengejar suasana baru di luar sana, maklumlah aku tinggal disini baru kemarin sore…
Ketika aku menyelusuri setiap jalan ini aku melihat seseorang di depan sana, aku rasa aku pernah mengenalnya….. wajah yang tak asing lagi dimataku, kemudian diapun mendekatiku dan menyapaku “Ri….” Uch aku jadi makin penasaran siapa sebenarnya pemuda yang sekarang berdiri dihadapanku ini, aku pun tersenyum padanya.
          “hai… kamu Riri???? Kamu udah lupa ya sama aku?”
          “ kamu siapa? Apa kita pernah kenal sebelumnya?” jawabku heran.
Diapun mengulurkan tangannya “ Aku Dika, teman SMP mu dulu, gimana kamu ingat?”
Akh ternyata Dika, orang yang dulu pernah aku sukai
          “Dika??? Bagaimana mungkin aku melupakanmu, hanya saja kamu tampak jauh berbeda” jawab ku
          “akh itu hanya perasaanmu saja, aku masih seperti dulu kok.. malah bagi ku kamu yang banyak berubah makin cantik” ucapnya menggoda Akh aku jadi malu dibuatnya…..
          “ Akhirnya ketemu juga.. aku kangen sama kamu ka” ucap seorang gadis dan langsung memegang tangan dika.
Akh pemandangan ini selalu saja menggangguku, tapi aku harus tetap tersenyum agar dia  tidak mencurigaiku kalau ternyata aku masih menyukainya sampai saat ini.
          “ Pacar mu ka? Gak dikenalin nih ma aku?????” ucapku menggodanya. Dikapun menjawab malu ” Bukan… dia Cuma teman aja “
          “ Apa??? Teman? Kamu sadar gak sih aku suka sama kamu ka, aku Alia kekasih Dika” ucapnya kesal
          “ Ouh… Dika, kamu gak boleh ngomong gitu  bagaimanapun juga dia pacar kamu, seharusnya kamu dapat menjaga persaan dia, ya udah aku duluan ya, aku gak mau ganggu kalian berdua” kataku pelan
Akupun segera pergi dari tempat itu, seharusnya aku sadar sampai kapanpun perasaanku ngga akan pernah dibalasnya walau bagaimanapun dia tidak bisa menyukaiku seperti aku menyukainya. Aku harus bisa membuang jauh-jauh perasaanku padanya, dia kini telah menjadi milik orang lain, bertahun-tahun kumenantinya Akh tapi semua itu percuma .
          Tak terasa waktu cepat berlalu air mata terus menerus membasahi pipiku sehingga akupun tertidur lelap. Satu minggu telah berlalu, akupun harus mencoba untuk melupakan semua tentang Dika. Aku terkejut oleh suara dering hp ku ternyata Raka sahabatku. “Halo?”
          “Ri, aku dengar kamu sekarang ada disini?” Tanya Raka
          “ iya Raka” jawabku
          “ kenapa kamu tidak pernah mengabariku?”
          “ aku takut mengganggumu”
          “ Akh kamu ini, mana mungkin aku merasa terganggu olehmu, kamu sekarang dimana Ri”
Akupun menjawab “ sudah seminggu ini aku diam saja dirumah “
“ Apa kamu gak bosan diam sendiri dirumah?” Tanya Raka
“ya bosan sih”
“dari pada kamu diam di rumah bagaimana kita jalan-jalan, lagian kita udah lama gak jalan bareng mau gak????”
“Hah? Jalan????? Hemz iya deh aku mau”
“ ya udah kamu siap-siap ya aku kerumahmu sekarang, ntar kirimin aja alamatmu dimana”
“ iya” jawabku, rakapun mengakhiri telpon nya .
Setelah itu aku dan Raka pergi berjalan-jalan ke taman. Tempatnya sangat indah, udaranyapun sangat sejuk. Ketika aku bercerita kepada Raka tentang kejadian satu minggu yang lalu diapun tertawa dan berkata “ Kamu masih menyukainya? Dan kamupun masih mengharapkannya?”
Akupun menunduk, raka melanjutkan kata-katanya “ asal kamu tau Alia memang bukan pacarnya Dika, gadis manis itu selalu saja mengejar-ngejar Dika”
Akupun menjawab dengan nada heran “ Apa? Terus???”
          “ siapa sih yang gak suka sama Dika? Dika saat ini masih sendiri, masih banyak kesempatanmu untuk mendapatkannya” goda Raka
Akupun tersenyum, aku berharap semoga apa yang dikatakan oleh Raka itu benar, “sungguh?”
Rakapun menjawab” masa kamu gak percaya sama aku?”
Aku menjawab dengan malu “ iya aku percaya sama kamu “
          Pandanganku tertuju pada seseorang yang berjalan didepan sana, akupun bertanya pada Raka “Aku rasa pernah melihatnya, tapi dimana ya?”
Aku melihat Raka tersenyum tetapi ia tidak menjawabnya. Aku pun memukulnya pelan “kenapa? Apa kamu kenal sama dia?”
          “kamu benar-benar pelupa ya?? Baru seminggu udah gak ingat” ucap Raka
“ kamu meledekku?” kesal
“ Akh ngga kok, gitu aja ngambek dia Alia orang yang hari itu membuatmu patah hati “ jawabnya.
Akupun terdiam dan kembali memperhatikan Alia sepertinya dia ngga sungguh-sungguh dengan ucapannya hari itu, dia terlihat bahagia jalan bersama laki-laki lain. Akupun segera mendatanginya tetapi Raka mencegahku “kamu mau kemana?” Tanya Raka dengan nada pelan.
          “ Aku ingin bertanya gimana perasaan dia pada dika sebenarnya, apa salah?”
“ Akh ngga, tapi ingat jangan umbar emosi”
Akupun mulai mendekati Alia dan menarik tangannya ” kamu yang waktu itu ngobrol ma Dika kan? Ada urusan apa kamu sama aku?” ucap Alia kesal
“ kamu bilang kamu pacarnya Dika?, terus kenapa sekarang kamu jalan dengan laki-laki lain?” tanyaku heran “Akh itu? Memang aku menyukainya, aku begitu karna aku kesal padanya dia gak pernah bisa menyukaiku, mungkin dia menyukai gadis lain” ucapnya.
Akupun segera menghampiri Raka tiba-tiba hp ku berdering dan Rakapun bertanya padaku. “ Siapa Ri?”
Akupun menjawab “ ntahlah, aku tak mengenalnya “
          “ angkat aja , siapa tau itu dika “ ucapnya menggoda
“ Akh mana mungkin dari mana dia tau no ku?”
“gak da yang gak mungkin, angkat lah dulu “ ucapnya tersenyum
Akupun mengangkat telpon itu dengan berharap itu benar-benar Dika.
          “ Halo?...”
          “ Ri, apa kabar? aku Dika, kemarin aku minta no mu sama Raka”
“ ouh Dika? Iya gak apa-apa, ada apa ka?”
          “ Aku mau minta maaf dan mau jelasin kejadian waktu itu”
“ sudahlah gak ada yang perlu dijelasin kok”
“ jadi kamu percaya kata-kata Alia? Dia bukan siapa-siapa dalam hidupku” ucapnya dengan nada cemas.
          “ aku percaya sama kamu”
“ sungguh??”
“ iya..”
          “ciyeeeeeee…” ucap Raka mengoda
“ disitu ada Raka?” Tanya Dika
“ iya”
“ kamu dimana?ada yang ingin aku bicarakan sama kamu sekarang”
          “aku ditaman dekat rumah nihh, kamu kesini aja”
          “tunggu ya jangan pergi dulu” Dikapun memutuskan telpon
Mungkin dia sungguh-sungguh ingin datang kesini untuk menemuiku, apa ya yang ingin dia bicarakan sama aku .
“ehemm janjian mau ketemuan nih?” Rakapun kembali menggodaku, aku pun hanya bisa tersenyum kepadanya.
15 menit kemudian hp ku berdering, ternyata Dika aku pun segera mengangkat telpon itu.
“halo???”
“kamu temannya Dika?”
Perasaanku pun mulai gak tenang rasa gelisah menghantuiku “iya benar ada apa ya?”
Dengan nada pelan orang itu bicara “Dika sekarang ada dirumah sakit dekat persimpngan jalan dekat taman, keadaannya pun sangat parah”
          Air mataku pun mengalir dan hp ku terjatuh dari tanganku, Raka yang melihatku pun terlihat heran mengapa aku jadi begini, dengan suara terputus-putus dan terus menangis aku berkata pada Raka “Dika kecelakaan, keadaannya sangat parah” Raka pun terkejut, aku dan raka segera pergi kerumah sakit, akupun menggenggam erat tangan Dika dengan menahan rasa sakit Dika pun berusaha untuk bicara  padaku “ Ri, sebenarnya dari dulu aku mencintaimu, maaf aku baru bilang sekarang, aku takut kamu menolak cintaku dan menjauhiku”
          Air mataku pun semakin deras mengalir dipipiku
          “ jaga dirimu baik-baik, yakinlah aku kan selalu ada di dekatmu dan selalu untuk mu”
“ kamu bicara ap? Kamu harus bertahan aku juga sangat mencintai mu”
“ Raka , aku titip Riri tolong jaga dia, Ri aku sayang sama kamu aku gak mau melihatmu menangis, aku ingin selalu melihat mu tersenyum”
          “ kamu yang harus jaga Riri, kamu yang dia cintai selama ini bertahanlah ka” ucap Raka.
Dikapun tersenyum, dan senyuman itu adalah senyuman yang terakhir kalinya sebelum dia pergi untuk selamanya.
          Mengapa baru saja aku merasakan kebahagiaan ,sekarang aku harus merasakan kehilangan orang yang aku sayang tuk kesekian kalinya.
Mungkin ini takdir hidupku, aku harus merelakannya aku yakin dia kan selalu menantiku disana……

Tidak ada komentar:

Posting Komentar