Kesenian al-madad dimainkan oleh 10 orang. Lima orang sebagai penabuh (nayaga). Dan lima orang lagi sebagai pemain yang menunjukan kebolehanya. Jenis kebolehan itu seperti memotong leher kemudian menyambungkanya lagi. Mengupas buah papaya di atas paha, membelah kelapa dan di dalamnya terdapat bihun, memotong lidah, tidur di atas kawat berduri , madi dengan air keras, dan masih banyak lagi pertunjukan-pertunjukan lainya yang cukup mencengangkan.
Sedang alat tabuhnya biasa digunakan rebana kecil, rebana besar, gong, terompet, dan gendang yang gunanya untuk mengatur hentakan-hentakan gerak dari para pemainya.
Sementara senjata yang digunakan di antaranya adalah gada runcing berkepala kayu seberat 10 kg dan parang-parang yang teramat tajam.
Kesenian al-madad biasa di pentaskan dilapangan terbuka, dimana penarinya memegang satu gada runcing. Gada itu di gunakan untuk menusuk perut lawan tanding yang terkadang di bantu oleh pemain lain untuk memukul ujung kayunya dengan menggunakan kayu besar. Dalam gaya seperti ini irama tabuhanya terus berbunyi dan penuh pujian kepada Allah SWT. Sekali-kali terdengar teriakan nagaya :”Al-Madad, Ya, Allah!” biasanya di ucapkan berulang kali bersamaan dengan menyentuhnya senjata ke tubuh pemain.
Tajamnya parang bagaikan membentur batu karang saat mendarat di tubuh lawan tandingnya. Semua dilakukan dengan gaya dan jurus-jurus silat yang khas.
Menurut sejarah, pada abad ke XV, di dataran banten bertahta seorang raja sakti dan berwibawa yang bergelar sang prabu pucuk umun dengan didampingi seorang patihnya yang bernama patih langser.
Kerajaan yang semula gemah ripah loh jinawi itu, tiba-tiba berubah jadi mencemaskan hati masyarakat banten waktu itu. Penyebabnya karena kekuasaan di ubah menjadi kekuatan senjata oleh orang-orang kuat.
Dari hari ke hari keadaan semakin memburuk saja . namun untungnya, dalam keadaan yang demikian datanglah seorang ulama dari tanah Cirebon yang bernama Sultan Maulana Hasanudin. Karena melihat rakyat banten tertindas, maka timbul niat sultan untuk merobohkan kerajaan yang dipinpin oleh Prabu Pucuk Umun itu. Namun pertumpahan darah tidak terjadi . sebab , sebelum bertatap muka dengan sultan , sang prabu sudah meninggalkan kerajaan jadi bukan kalah perang melainkan hanya di guncang wiring (dipermalukan).
Setelah kerajaan banten kosong, maka saat itu, sultan hasanudin lah yang memegang pucuk pemerintahan di dataran banten. Peminpin yang berbekal keramahan dan kesabaran itu telah merubah banten menjadi daerah yang damai, dan tidak ada lagi kekerasan. Maka tidak heran dari hari ke hari pengikut sultan bertambah banyak.
Pada suatu hari sultan menanyakan kepada dua pengawal setianya yang bernama mas jong dan mas ju, tentang apa kesenangan orang banten. Kedua pengawal itu menjawab bahwa yang digemari orang banten adalah kedigdayaan atau kanuragan. Maka sultan menciptakan kesenian Al-Madad yang di dalamnya di ajarkan ilmu-ilmu kebal.
Tapi sebelum sultan menurunkan ilmunya kepada murid-muridnya, dia berpesan supaya yang mau mempelajari kesenian Al-Madad harus rajin melaksanakan perintah yang maha kuasa dan menjauhi segala laranganya.
Sekarang, kesenian yang cukup tinggi nilainya ini ternyata tidak mampu lagi bertahan. Hal ini terjadi mungkin karena kurangnya perhatian dari instansi terkait. Disamping itu, mencari generasi penerus yang mammpu menjabarkan secara utuh kesenian ini memang semakin sulit, Al-Madad, mungkin hanya tinggal kenangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar