Kamis, 02 Juni 2011

Mau GauL…?? Hati – Hati Lho…

Istilah gaul dalam kamus remaja udah jadi bahasan wajib bin fardhu. Frase gaul dalam kehidupan sehari-hari ga jarang lagi dibahas. Pantes aja ada julukan baju gaul, kawan gaul, mobil gaul, makanan gaul, ustadz gaul sampe ada grup dangdut yang punya nama G4ul. Tentu saja anggotanya berdarah muda. Ga mungkin kan kalo ada grup punya nama itu trus anggotanya seumuran Mbah Maridjan...Hehe..Pokoke ruso!!



Dalam kamus gaul, makna gaul punya 2 makna. Pertama, istilah gaul untuk orang. Nah, orang yang gaul, punya gambaran sebagai orang yang musti matching kalo diajak ngobrol. Ibarat antivirus, virus library-nya selalu di update. Misal, ngomongin soal si badan kekar John Cena yang main di film The Marine. Pasti nyambung. Si caem Samantha (Julie Estelle) yang jadi serem di film Kuntilanak. Pokoknya, seru abis deh. Top bgt. Sampe-sampe jajanan lebaran satu meja abis gara-gara asyik ngobrol sambil incip-incip kue. Aduh....kesindir nih.

Kedua, istilah gaul untuk benda. Benda-benda yang disebut barang gaul, sebenarnya adalah barang yang udah nyimpang jauh dari fungsi utamanya. Sandal gaul misalnya, ga lagi sebagai alas kaki untuk jalan. Cuma buat gaya doank. Kacamata gaul, ga lagi untuk melindungi mata dari sinar mentari. Justru dipake buat nambah pede. Model retro, warna cerah, stiker Dora, ditambah whiper yang bergoyang untuk ngelindungi pandangan mata dari air hujan (hu.. dasar sakit!!).

Nah, kedua makna gaul tadi, baik untuk yang namanya orang ataupun benda, ga bisa dipisahkan. Mudah ditebak. Ujung-ujungnya, ngebawa gaya hidup alias life style. Orang yang sudah make asesoris gaul, kayaknya ga komplit kalo ga nyatu ama pola hidupnya yang katanya juga gaul. Seperti sayur tanpa kuah, ga seger gitu. Mulai dari caranya ngomong, sampe dandan, semua kalo bisa pake tata cara gaul. Tentunya, gaya hidup yang ditawarin bukanlah gaya hidup yang serba biasa dan sederhana. Jauh dari itu. Justru gaya hidup serba hedonis dan kapitalis alias menilai segalanya dari uang, jadi rujukan dalam menjalani hidup. Bahkan kalo perlu, harga dirinyapun bisa dijual, asal dapat kekayaan plus keinginan, meski cuma sekedar untuk beli pulsa handphone. So, jadilah remaja-remaja kita menjadikan asas manfaat sebagai modal utama dalam interaksi sosial. Terutama cara bergaul dengan rekan-rekannya, baik yang sesama jenis maupun dengan lawan jenisnya. Awas nyetrum....stop kontaknya masih nempel.

Gaul yang Salah Kaprah
Dalam konteks yang seperti ini, ga heran, tak sedikit booming kemaksiatan di dunia remaja. Atas nama dan latar belakang gaul kek, modern kek, kebebasan kek atau apapun namanya. Ga ada lagi pertimbangan agama di dalamnya. En, ga cukup dirinya yang jadi korban keganasan budaya barat, tapi seringkali teman-temannya juga diseret ikut serta. Fenomena gaul yang awalnya hanya sekedar istilah untuk orang yang gampang nyambung dan up to date serta barang-barang nyeleneh buat begadang, jadi bergeser ke arah pandangan hidup dan life style. Malah, sebagian besar memaknai gaul adalah kebebasan, di dalamnya termasuk seks bebas. Walah-walah.

Bahkan, revolusi seks yang dulu mencuat di Amerika Serikat dan Eropa di akhir 1960-an seolah sudah merambah ke sini, apalagi lewat piranti teknologi informasi, dan sarana hiburan yang makin canggih. Hasil riset Synote tahun 2004, ngasih black spot buat pergaulan remaja kita, yang konon udah sampe titik nadir. Riset dilakukan di empat kota yakni Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan. Dari 450 responden, 44% mengaku berhubungan seks pertama kali pada usia 16-18 tahun. Sebanyak 40% responden melakukan hubungan seks di rumah. Sedangkan 26% melakukannya di tempat kos, dan 20 % lainnya di hotel (gatra.com).

Ciloko tenan, para remaja mungkin aja ada yang berargumen pantang mundur, nyebut kalo kebebasan seks identik ama pergaulan kehidupan modern. Padahal, menurut seksolog dokter Naek L. Tobing, seks bebas adalah kehidupan primitif. "Seks bebas terjadi sebelum agama lahir," katanya. “Ketika peradaban semakin maju, dan ilmu pengetahuan berkembang, seks bebas ternyata terbukti membawa banyak persoalan. Selain merusak tatanan sosial juga menyebarkan berbagai penyakit gawat.” Lanjutnya. Ga cukup di situ. Akibat bebas gaul, kasus aborsi jadi tren, hanya untuk sekedar menghilangkan malu akibat berbuat mesum, remaji yang hamil mau membunuh jabang bayinya tanpa ampun. Dra. Clara Istiwidarum Kriswanto, MA, CPBC, psikolog dari Jagadnita Consulting, menyebutkan beberapa survei yang dilakukan di Jakarta, sekitar 6-20 persen anak SMU dan mahasiswa di Jakarta pernah melakukan hubungan seks pranikah. Kenapa mereka ngelakuin itu? Sebagian besar menjawab, kalo hal itu bagian dari remaja gaul. Malah, sebanyak 35 persen dari mahasiswa kedokteran di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta sepakat tentang seks pranikah. Malu toh neng. Nah, dari 405 kehamilan yang tidak direncanakan, 95 persennya dilakukan oleh remaja usia 15-25 tahun. Angka kejadian aborsi di Indonesia mencapai 2,5 juta kasus, 1,5 juta diantaranya dilakukan oleh remaja.

Sedangkan poling yang dilakukan di Bandung nunjukin kalo, 20 persen dari 1.000 remaja yang masuk dalam poling pernah ngelakuin seks bebas. Diperkirakan jumlah remaja yang melakukan seks bebas sekitar 38-53 ribu. Dari 200 remaja putri yang melakukan seks bebas, setengahnya kedapatan hamil. Dan 90 persen dari jumlah itu melakukan aborsi (momipopi.com). Jadi apa remaja negeri ini/

So sobat, inilah yang terjadi kalo awalnya kita udah salah persepsi tentang istilah gaul. Kesalahan itu terus diyakini. Dan akhirnya dijadikan pegangan hidup. Makanya, mulai sekarang ati-ati deh dalam ambil istilah. Karena, kalo istilah itu ga sesuai ama Islam, haram loh mengambil, menerapkan dan nyebarluaskan. Sobat, bukan hanya istilah gaul yang salah kaprah udah disiramkan ke negeri lumpur Lapindo ini. Istilah-istilah lain untuk remaja seperti funky, jilbab gaul, pacaran, valentine, dan haloween juga jadi pemahaman yang salah kaprah di benak remaja. Lebih luas lagi, istilah yang bertentangan dengan Islam seperti nasionalisme, demokrasi, HAM, kebebasan, kesetaraan gender, pluralisme, dan liberalisme, udah ditanam dalem-dalem di pikiran ortu dan guru kita. Pusiing!! Trus gimana donk kita? Apa kita cuma diem doank? Jawabnya: Ya enggaklah!!

Islam, Benteng Dirimu

Sobat, makin santernya serangan instant culture dari budaya barat, mau ga mau kudu bikin kita serba waspada. Jangan asal percaya. Apalagi terus ngidrus ngalor ngidul. Allah SWT merintahkan kita untuk merujuk pada sumber asli istilah itu, sehingga kita ga salah langkah. Allah SWT berfirman dalam sebuah kisah di Al Qur’an, “Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu." (TQS. Al Kahfi: 70)

Islam kudu dijadikan sandaran untuk menilai segala sesuatunya. Hal ini bisa kita lakukan, kalo kita rajin mengkaji Islam, sering bareng ama anak-anak yang shaleh (ehm...siapa ya?) dan dakwah pada rekan-rekan kita. Dengan ini, istilah yang positif buat pikiran dan benak kita akan terjaga. Masuknya istilah-istilah ga bergizi cuma akan buat pikiran kita keruh. Contoh, istilah dugem dan free sex. Boleh aja sih, kita ngerti istilah-istilah itu, cuma tujuannya supaya kita tahu kesalahan dan kerusakannya. Bukan untuk dipahami dan diamalkan.
 Catet!

Of course, kudu diimbangi ama masuknya istilah positif ke pikiran kita. Kalo kita malas dengerin nasihat dari orang lain soal kiat-kiat belajar, kita akan sulit untuk naikin prestasi di sekolah. Begitu juga kalo kita merasa gerah dan suntuk untuk ngaji, kita ga akan bisa punya pikiran yang sehat dan iman yang kuat…Ingat lho sobat, orang yang punya perilaku buruk adalah cerminan kurangnya masukan informasi dan nasihat yang berguna, dan terlalu banyak mengkonsumsi informasi salah yang merusak pikiran. So, mau gaul? Ati-ati lho. (dy)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar