Nak! Ayah mau, kelak engkau menjadi manusia yang berguna. Maka dari itu, jangan sekali-kali kamu terjerumus pada pergaulan yang akan menyeretmu ke lembah kenistaan. Hindari narkoba, seks bebas dan prilaku-perilaku lain yang dilarang agama. Karena itu hanya akan menjadikan kamu sebagai sampah masyarakat.
Begitulah kurang lebih para orang tua menasehati anak-anaknya agar tidak terjerumus pada lembah kenistaan tiada akhir; dengan perilaku seks bebas, dan tentunya narkotika dan zat adiktif lainnya.
Gambaran orang tua seperti ini, tentunya mewakili ribuan bahkan jutaan orang tua di seluruh pelosok tanah air. Namun ironisnya, anak-anak mereka khususnya para remaja hanya menganggap itu semua hanya sebatas kultum (kuliah tujuh menit) dan pembicaraan yang seharusnya diutarakan oleh semua orang tua.
Terlepas dari semua itu, mereka tidak memahami kultur dan life style yang tengah merebak di kalangan remaja yang memang dipaksa untuk menemukan karakteristik remaja masa kini. Sehingga metode yang diterapkan, benar-benar kontradiktif dengan wilayah yang ditempatinya; yakni remaja. Sebuah proses perubahan dari kanak-kanak kepada fase kewasaan. Tahap yang relatif sulit dilalui oleh setiap manusia. Di sana mereka akan menemukan jati dirinya dan di sana pula mereka akan dengan bijak mengambil keputusan untuk kehidupan di masa depan.
Namun, apakah proses ini akan sesuai dengan idealita kebanyakan manusia? Sungguh Naif rasanya jika kita hanya berbangga dengan sisi idealis kita dan mimpi-mimpi untuk menjadikan generasi muda yang bebas dari perilaku-perilaku tercela. Sedangkan realitas yang tengah kita hadapi hampir tidak menjadi renungan bersama.
Pada awal abad XXI dan kita telah memasuki milenium baru, umat manusia menyaksikan perkembangan teknologi yang sangat pesat dan prevalen sehingga sering terdengar ungkapan bahwa teknologi merupakan aset yang kritikal sifatnya dan menyentuh semua segi kehidupan, baik pada tingkat individual, tingkat kelompok maupun tingkat organisasi. Kemajuan teknologi yang begitu pesat dan menggila, media masa dan elektronik yang terus menerus mencontohkan gaya hidup “ala anak muda zaman sekarang”, kekerasan keluarga, seks bebas dikalangan pelajar, busana yang mengundang nafsu sex dan berimplikasi terhadap pemerkosaan, dan masih banyak lagi gambaran-gambaran yang disuguhkan teknologi sekarang ini. Itu semua menjadi konsumsi remaja sehari-hari, sehingga mereka merasa telah berada dalam dunianya. Merebaknya berbagai produk hand phone yang dari hari kehari kian menunjukan keangkuhan teknologi, kini bukan sekedar menjadi kebutuhan berkomunikasi, tapi mengalami pergeseran nilai menjadi tren dan simbol pergaulan.
Di sisi lain, kondisi objektif masyarakat kita, tidak semuanya hidup dalam kondisi yang segala berkecukupan. Sehingga sulit untuk menyentuh dan mengikuti gaya hidup celebritis yang diagung-agungkan di media masa. Hal ini berimbas pada perilaku remaja yang cenderung memperjuangkan apa yang ada dalam bayanganya dengan berbagai cara.
Inilah yang harus kita cermati, telaah dan mencari solusinya. Nasehat serta dalil-dalil yang dikemukakan tokoh-tokoh agamapun ternyata tidak dapat membendung pengaruh teknologi. Terkadang mereka atau siapapun itu, seringkali terjebak dengan konsep-konsep kebijakan dan mutiara hikmah yang sarat dengan anjuran kebajikan. Eksklusif dan menutup diri dengan objek yang dihadapi. Tentu saja itu tidak sepadan dengan dunia remaja. Apakah anda juga berani bertaruh bahwa jika metode-metode penyampaian jurkam anti narkoba yang dikemukakannya akan memberikan inspirasi kesadaran bagi remaja yang terjebak dalam pergaulan masa kini, jika transformasi pemikiran mereka hanya berkutat di wilayahnya sendiri.
Gerakan-garakan sosial yang ada dalam masyarakat juga tidak akan mendapatkan simpati, dukungan atau cacian sekalipun dari masyarakat luas jika tidak didorong oleh media tertentu yang dapat lebih me-wah-kan gerakan-gerakan sosial tadi.
Selain faktor-faktor tadi yang berpengaruh dalam peruahan masyarakat, faktor-faktor lainnya juga akan menghasilkan efek yang berbeda sesuai dengan medium gagasan yang digunakannya. Bisa jadi efek yang dihasilkan kurang mewabah atau juga sebaliknya, itu semua tergantung terhadap medium gagasan yang digunakan. Apakah medium gagasan ini berupa media yang telah memasyarakat atau asing di mata masyarakat. Ini di antaranya yang perlu diperhatikan oleh kita dalam mengamati perubahan sosial yang terjadi sebagai implikasi dari penggunaan media tertentu.
Media yang dipilih menjadi penting dibicarakan karena ia menjadi sebuah kekuatan yang sangat diperhitungkan. Kekuatan yang tidak mustahil dapat mengubah yang baik jadi buruk, mulia jadi hina, menggiurkan jadi menyeramkan dan sebagainya. Bahkan medium yang tepat dan yang dikelola sebaik dan seoptimal mungkin dapat merubah opini dan tren di kalangan remaja.
“SAY NO TO DRUG” Selogan itu demikian akrab di telinga kita. Bahkan kampanye anti Narkoba juga sering kita jumpai di ruas-ruas jalan kota. Menjelaskan bahaya dan kerugian memakai Narkoba; merusak kesehatan fisik dan mental, membawa perilaku kriminal, pemborosan keuangan, dosa besar, mengakibatkan kematian dan lain sebagainya. Apakah para pemakai tahu akan kerugian tersebut? Saya berani menjamin. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang tidak tahu bahaya dan kerugian akibat memakai narkotika dan obat-obatan terlarang itu.
Sungguh ngeri jika kita mengetahui narkoba sudah dijadikan tren dan gaya hidup generasi muda. “Yang belum nyoba dianggap kampungan, belum gaul, dan ketinggalan zaman”. Dan ternyata seperti itulah realitasnya. Dimanakah bentuk kepedulian kita untuk melakukan perubahan sosial seperti ini?
Maka kemudian timbul permasalahan bagaimana cara yang efektif mengkampanyekan No Drug ini sehingga bisa menyentuh kesadaran user yang mayoritas remaja.
Ada tiga hal yang berpengaruh terhadap proses perubahan dalam masyarakat. Pertama, bagaimana ide atau gagasan mempengaruhi perubahan masyarakat. Kedua, bagaimana tokoh-tokoh besar dalam sejarah menimbulkan perubahan di tengah-tengah masyarakat. Ketiga, sejauh mana peranan gerakan-gerakan sosial dan revolusi menimbulkan perubahan struktur sosial dan norma-norma sosial sebuah masyarakat.
Ketiga hal yang mempengaruhi perubahan masyarakat tadi juga akan sangat dipengaruhi oleh medium gagasan yang digunakan. Proses transformasi ide atau gagasan yang dikemukakan oleh seorang pemikir terkadang tidak memberikan efek seperti yang diharapkan jika pesan tersirat di balik ucapannya tidak dapat tersampaikan dengan baik. Jangankan pesan tersirat pesan tersuratnya pun belum tentu tersampaikan dengan baik jika itu tidak dikemas dengan baik. Tujuan untuk menyampaikan pesan tertulis maupun yang terkandung di dalamya bisa tersampaikan dengan sempurna jika ia dapat memanfaatkan medium gagasan yang tepat. Karena penyampaian pesan seperti ini sangat dipengaruhi oleh medium gagasan yang digunakannya. Apakah medium gagasan yang digunakan hanya mulut dan speaker saja, makalah, selebaran atau ada medium lain seperti pamflet, buku, tv, radio atau internet..
Dari pemaparan di atas, peran keluarga merupakan media yang signifikan untuk membentuk karakter anggota keluarga itu sendiri khususnya anak. Keluarga bisa mengcover semua gagasan preventif agar perilaku anak tidak menyimpang. Tentunya dengan pengemasan yang relevan dengan kondisi anak itu sendiri. Jadikanlah rumah sebagai pusat peradaban keluarga, pembentukan karakter, pemahaman nilai-nilai kehidupan. Dampingi anak-anak ketika melihat acara televisi serta berikan pemahaman dengan analogi-analogi dan pendekatan persuasif. Simbol-simbol kasih sayang berupa materi saja tidak cukup untuk menyentuh kesadaran remaja. Justru perhatian orang tua dengan memahami psikologi remaja beserta dunianya sangan urgen untuk diperhatikan.
Akhirnya saya menyimpulkan, perkembangan zaman yang semakin gila tidak bisa kita bendung. Tapi kita masih punya kesempatan untuk merekayasa kesemuanya itu menjadi sesuatu hal yang positif. Narkoba itu memang sudah jadi tren di kalangan remaja, tapi kita masih bisa menciptakan tren-tren baru yang lebih bermanfaat, bernilai, dan tentunya tidak merugikan. Sehingga remaja bisa sedikit-sedikit meninggalkan kebiasaan buruknya dan beralih pada kebiasaan baru yang jauh lebih baik, baik dari segi pergaulan, kesehatan, dan skill sebagai bekal masa depannya kelak. Di sini juga saya menegaskan, jadikanlah keluarga sebagai media pemerhati perkembangan remaja sekaligus menjadi basis pembentukan karakter.
Bisa Jadi Kamu Membenci Sesuatu Namun Itu Baik Buatmu
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Dalam ayat ini ada beberapa hikmah dan rahasia serta maslahat untuk seorang hamba. Karena sesungguhnya jika seorang hamba tahu bahwa sesuatu yang dibenci itu terkadang membawa sesuatu yang disukai, sebagaimana yang disukai terkadang membawa sesuatu yang dibenci, iapun tidak akan merasa aman untuk tertimpa sesuatu yang mencelakakan menyertai sesuatu yang menyenangkan.
Dan iapun tidak akan putus asa untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan menyertai sesuatu yang mencelakakan. Ia tidak tahu akibat suatu perkara, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta"ala mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh hamba. Dan ini menumbuhkan pada diri hamba beberapa hal:
1. Bahwa tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hamba daripada melakukan perintah Allah Subhanahu wa Ta"ala, walaupun di awalnya terasa berat. Karena seluruh akibatnya adalah kebaikan dan menyenangkan, serta kenikmatan-kenikmatan dan kebahagiaan. Walaupun jiwanya benci, akan tetapi hal itu akan lebih baik dan bermanfaat.
Demikian pula, tidak ada yang lebih mencelakakan dia daripada melakukan larangan, walaupun jiwanya cenderung dan condong kepadanya. Karena semua akibatnya adalah penderitaan, kesedihan, kejelekan, dan berbagai musibah.
Ciri khas orang yang berakal sehat, ia akan bersabar dengan penderitaan sesaat, yang akan berbuah kenikmatan yang besar dan kebaikan yang banyak. Dan ia akan menahan diri dari kenikmatan sesaat yang mengakibatkan kepedihan yang besar dan penderitaan yang berlarut-larut.
Adapun pandangan orang yang bodoh itu (dangkal), sehingga ia tidak akan melampaui permukaan dan tidak akan sampai kepada ujung akibatnya. Sementara orang yang berakal lagi cerdas akan senantiasa melihat kepada puncak akibat sesuatu yang berada di balik tirai permukaannya. Iapun akan melihat apa yang di balik tirai tersebut berupa akibat-akibat yang baik ataupun yang jelek.
Sehingga ia memandang suatu larangan itu bagai makanan lezat yang telah tercampur dengan racun yang mematikan. Setiap kali kelezatannya menggodanya untuk memakannya, maka racunnya menghalanginya (untuk memakannya). Ia juga memandang perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta"ala bagai obat yang pahit rasanya, namun mengantarkan kepada kesembuhan dan kesehatan. Maka, setiap kali kebenciannya terhadap rasa (pahit)nya menghalanginya untuk mengonsumsinya, manfaatnyapun akan memerintahkannya untuk mengonsumsinya.
Akan tetapi, itu semua memerlukan ilmu yang lebih, yang dengannya ia akan mengetahui akibat dari sesuatu. Juga memerlukan kesabaran yang kuat, yang mengokohkan dirinya untuk memikul beban perjalanannya, demi mendapatkan apa yang dia harapkan di pengujung jalan. Kalau ia kehilangan ilmu yang yakin dan kesabaran maka ia akan terhambat dari memperolehnya. Tetapi bila ilmu yakinnya dan kesabarannya kuat, maka ringan baginya segala beban yang ia pikul dalam rangka memperoleh kebaikan yang langgeng dan kenikmatan yang abadi.
2. Di antara rahasia ayat ini bahwa ayat ini menghendaki seorang hamba untuk menyerahkan urusan kepada Dzat yang mengetahui akibat segala perkara serta ridha dengan apa yang Ia pilihkan dan takdirkan untuknya, karena dia mengharapkan dari-Nya akibat-akibat yang baik.
3. Bahwa seorang hamba tidak boleh memiliki suatu pandangan yang mendahului keputusan Allah Subhanahu wa Ta"ala, atau memilih sesuatu yang tidak Allah Subhanahu wa Ta"ala pilih serta memohon-Nya sesuatu yang ia tidak mengetahuinya. Karena barangkali di situlah kecelakaan dan kebinasaannya, sementara ia tidak mengetahuinya. Sehingga janganlah ia memilih sesuatu mendahului pilihan-Nya. Bahkan semestinya ia memohon kepada-Nya pilihan-Nya yang baik untuk dirinya serta memohon-Nya agar menjadikan dirinya ridha dengan pilihan-Nya. Karena tidak ada yang lebih bermanfaat untuknya daripada hal ini.
4. Bahwa bila seorang hamba menyerahkan urusan kepada Rabbnya serta ridha dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta"ala pilihkan untuk dirinya, Allah Subhanahu wa Ta"ala pun akan mengirimkan bantuan-Nya kepadanya untuk melakukan apa yang Allah Subhanahu wa Ta"ala pilihkan, berupa kekuatan dan tekad serta kesabaran. Juga, Allah Subhanahu wa Ta"ala akan palingkan darinya segala yang memalingkannya darinya, di mana hal itu menjadi penghalang pilihan hamba tersebut untuk dirinya. Allah Subhanahu wa Ta"ala pun akan memperlihatkan kepadanya akibat-akibat baik pilihan-Nya untuk dirinya, yang ia tidak akan mampu mencapainya walaupun sebagian dari apa yang dia lihat pada pilihannya untuk dirinya.
5. Di antara hikmah ayat ini, bahwa ayat ini membuat lega hamba dari berbagai pikiran yang meletihkan pada berbagai macam pilihan. Juga melegakan kalbunya dari perhitungan-perhitungan dan rencana-rencananya, yang ia terus-menerus naik turun pada tebing-tebingnya. Namun demikian, iapun tidak mampu keluar atau lepas dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta"ala telah taqdirkan. Seandainya ia ridha dengan pilihan Allah Subhanahu wa Ta"ala maka takdir akan menghampirinya dalam keadaan ia terpuji dan tersyukuri serta terkasihi oleh Allah Subhanahu wa Ta"ala. Bila tidak, maka taqdir tetap akan berjalan padanya dalam keadaan ia tercela dan tidak mendapatkan kasih sayang-Nya karena ia bersama pilihannya sendiri. Dan ketika seorang hamba tepat dalam menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta"ala dan ridhanya kepada-Nya, ia akan diapit oleh kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya dalam menjalani taqdir ini. Sehingga ia berada di antara kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya. Kasih sayang-Nya melindunginya dari apa yang ia khawatirkan, dan kelembutan-Nya membuatnya merasa ringan dalam menjalani taqdir-Nya.
Bila taqdir itu terlaksana pada seorang hamba, maka di antara sebab kuatnya tekanan taqdir itu pada dirinya adalah usahanya untuk menolaknya. Sehingga bila demikian, tiada yang lebih bermanfaat baginya daripada berserah diri dan melemparkan dirinya di hadapan taqdir dalam keadaan terkapar, seolah sebuah mayat. Dan sesungguhnya binatang buas itu tidak akan rela memakan mayat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar